Sandang, Pangan, Papan (Bagian I)

Apa yang terlintas di benak Anda kalau membaca judul di atas? Apakah merupakan nostalgia dan sesuatu yang tidak relevan lagi di zaman sekarang? Kalau untuk saya,  nostalgia tapi sekaligus masih sangat relevan untuk zaman sekarang, apalagi untuk hidup. Nostalgia, karena jargon tersebut akan membawa memori saya ke masa-masa SD dengan pelajaran PMP dan IPS-nya he-he-he. Relevan, karena jargon tersebut menurut saya sarat dengan pemikiran mendalam yang diperlukan sekali pada masa-masa membingungkan seperti sekarang ini. Lho, kok bisa?

Dalam pemikiran saya, ada dua hal yang bisa dipelajari dari jargon sandang, pangan, dan papan ini. Pertama, dari segi urutan. Coba luangkan sedikit waktu untuk mengamati diri kita sebelum berangkat kerja. Apapun profesi kita, bukankah kita harus berpakaian yang sesuai sebelum menuju ke tempat kerja? Yang ke kantor biasanya berkemeja, berdasi, dan bercelana bahan. Yang ke pabrik biasanya ber-wearpack dan bersepatu safety. Yang berdagang, walaupun bebas jenis dan motifnya tapi tetap saja rapi dan sesuai dengan tempat usahanya. Bahkan, maaf, yang mengemispun juga harus berpakaian yang serasi dengan pekerjaan mengemisnya. Saya pikir hanya orang yang sedang bingung saja yang pergi ke tempat kerja dengan pakaian yang tidak matching dengan tempat kerjanya he-he-he.

Setelah bersandang alias berpakaian, cobalah jujur kepada diri sendiri, untuk apa kita bekerja dengan pakaian yang sebisa mungkin sesuai walaupun saya sendiri merasa sering tersiksa untuk mengenakannya? Menurut hemat saya, hanya orang yang sedang munafik saja yang bilang bekerja adalah untuk mencari pengalaman dan bukan untuk sesuap makanan. Lantas setelah seharian berusaha untuk sesuap pangan, hampir tidak mungkin tidak muncul perasaan lelah dan ingin istirahat. Yang di kantor, di pabrik, di jalan, dan di manapun yang berada di luar rumah pasti ingin segera pulang. Yang berusaha di rumah, pasti rindu untuk segera masuk kamar nyamannya. Dan apapun sebutannya, entah itu rumah apartemen, kontrakan, kos-kosan, gubuk, ataupun sebuah kamar tidur yang nyaman, tujuan pulang tetaplah sebuah tempat, papan, di mana kita ingin menuju dan merasa aman serta tenteram di dalamnya.

Sampai di sini dulu bagian pertama, saya sudah terlalu lelah untuk menulis yang bagian kedua. Saya mau pulas di papan saya dulu he-he-he.

Salam papan.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>